HOME     SERVICES     CONTACT US     ABOUT US

49% OF 171, 17 MILLION INTERNET USERS IN INDONESIA HAS EXPERIENCED CYBERBULLYING

DEPRESSION WILL BE THE SECOND
LEADING CAUSE OF DISEASE BY 2020
– WORLD HEALTH ORGANIZATION

                                                                                                                                        Combat Bullying & Cyberbullying

 

 

 

                                                                               #Digitallykind

Pembullyan atau perundungan telah menjadi masalah global yang mengkhawatirkan, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Meskipun banyak upaya telah dilakukan untuk mengurangi perundungan, statistik menunjukkan bahwa angka perundungan masih sangat tinggi dan terus berkembang. Tidak hanya terbatas pada anak-anak dan remaja, perundungan kini semakin meluas ke berbagai usia dan latar belakang. Melihat fakta-fakta ini, kita harus menyadari bahwa pembullyan adalah ancaman nyata yang perlu mendapatkan perhatian serius di seluruh dunia.

Angka Pembullyan di Sekolah

Pembullyan di lingkungan sekolah adalah salah satu bentuk perundungan yang paling umum terjadi. Menurut laporan yang dikeluarkan oleh berbagai lembaga, sekitar 1 dari 3 anak di seluruh dunia mengalami perundungan di sekolah. Data ini menunjukkan bahwa hampir sepertiga dari populasi pelajar global merasa terancam atau dirugikan oleh tindakan perundungan yang dilakukan oleh teman sebaya mereka.

Di Indonesia sendiri, angka pembullyan di sekolah masih menjadi masalah serius. Menurut penelitian yang dilakukan oleh beberapa lembaga pendidikan, lebih dari 25% siswa mengaku pernah menjadi korban perundungan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun kesadaran terhadap bahaya pembullyan telah meningkat, angka kejadian perundungan di kalangan pelajar tetap cukup tinggi.

Pembullyan Digital: Tren yang Semakin Meningkat

Selain pembullyan di sekolah, fenomena pembullyan digital atau cyberbullying juga menjadi masalah yang semakin meningkat. Di dunia yang semakin terkoneksi secara digital, banyak orang, terutama remaja, yang menjadi korban perundungan melalui platform online seperti media sosial, pesan teks, dan forum internet. Menurut sebuah survei yang dilakukan oleh Pew Research Center, hampir 59% remaja melaporkan bahwa mereka pernah menjadi korban perundungan di dunia maya.

Penting untuk dicatat bahwa pembullyan digital tidak hanya terjadi pada remaja. Statistik menunjukkan bahwa hampir 1 dari 10 orang dewasa juga pernah mengalami perundungan digital, baik itu berupa komentar kebencian, pelecehan seksual online, maupun penghinaan melalui platform media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa pembullyan digital menjadi masalah yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat dan dapat terjadi pada siapa saja.

Dampak Pembullyan Terhadap Korban

Statistik juga mengungkapkan dampak jangka panjang yang dialami oleh korban pembullyan. Berdasarkan data yang dikumpulkan dari berbagai sumber, hampir 70% korban perundungan mengalami gangguan emosional yang serius, seperti kecemasan, depresi, dan stres pasca-trauma (PTSD). Beberapa korban bahkan merasa tertekan hingga memikirkan untuk mengakhiri hidup mereka. Data ini menunjukkan betapa besar dampak psikologis yang ditimbulkan oleh perundungan, baik secara langsung maupun jangka panjang.

Selain itu, pembullyan juga berdampak pada kinerja akademik dan kehidupan sosial korban. Menurut penelitian yang dilakukan oleh National Bullying Prevention Center, hampir 20% korban perundungan mengaku bahwa mereka merasa kesulitan untuk fokus di sekolah, sementara lebih dari 25% korban melaporkan bahwa mereka mulai menarik diri dari pergaulan sosial. Hal ini dapat mengarah pada isolasi sosial, penurunan rasa percaya diri, dan kesulitan beradaptasi dalam lingkungan sosial yang lebih luas.

Pembullyan Berdasarkan Identitas Sosial

Salah satu aspek yang semakin menarik perhatian adalah hubungan antara identitas sosial dan prevalensi pembullyan. Statistik menunjukkan bahwa anak-anak dari kelompok minoritas—seperti anak-anak dari kelompok etnis tertentu, anak-anak dengan disabilitas, serta anak-anak dengan orientasi seksual atau identitas gender yang berbeda—lebih rentan menjadi korban perundungan. Data dari Human Rights Campaign menunjukkan bahwa anak-anak LGBTQ+ lebih cenderung menjadi sasaran perundungan dengan angka yang lebih tinggi dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang heteroseksual.

Di sisi lain, anak-anak yang memiliki disabilitas fisik atau mental juga sering kali menjadi korban perundungan. Berdasarkan laporan dari Disability Rights Education & Defense Fund, anak-anak dengan disabilitas mengalami tingkat perundungan yang lebih tinggi, dengan lebih dari 50% anak-anak dengan disabilitas melaporkan bahwa mereka pernah dibuli.

Pembullyan di Dunia Kerja

Selain di lingkungan sekolah, pembullyan juga terjadi di dunia kerja. Di banyak negara, termasuk Indonesia, fenomena mobbing atau perundungan di tempat kerja semakin mendapatkan perhatian. Data menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 5 pekerja pernah menjadi korban mobbing di tempat kerja. Mobbing dapat berupa penghinaan verbal, intimidasi fisik, atau bahkan pengucilan sosial yang dilakukan oleh rekan kerja atau atasan.

Pembullyan di dunia kerja memiliki dampak yang signifikan terhadap produktivitas dan kesejahteraan mental pekerja. Menurut studi yang diterbitkan oleh Workplace Bullying Institute, lebih dari 40% korban mobbing melaporkan bahwa mereka merasa stres, cemas, dan kehilangan rasa percaya diri. Bahkan beberapa pekerja yang menjadi korban mobbing melaporkan bahwa mereka merasa terpaksa untuk mengundurkan diri dari pekerjaan mereka karena tidak mampu lagi menangani tekanan yang diberikan oleh pelaku perundungan.

Faktor Penyebab Pembullyan

Penyebab pembullyan tidaklah sederhana. Beberapa faktor yang sering kali teridentifikasi sebagai penyebab utama perundungan antara lain adalah ketidaktoleransian terhadap perbedaan, kurangnya empati, dan kurangnya pengawasan dari orang dewasa. Pembullyan sering kali terjadi di lingkungan di mana perbedaan individu tidak dihargai dan di mana pelaku merasa memiliki kekuasaan atau kontrol terhadap korban. Di banyak kasus, kurangnya pemahaman tentang dampak jangka panjang dari pembullyan membuat orang-orang tidak menyadari betapa seriusnya masalah ini.

Selain itu, faktor keluarga dan pendidikan juga berperan penting dalam mencegah pembullyan. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis atau yang tidak diberikan contoh yang baik dalam hal menghargai orang lain cenderung lebih rentan menjadi pelaku atau korban pembullyan.

Upaya Mengurangi Pembullyan

Meskipun statistik tentang pembullyan sangat mengkhawatirkan, banyak negara dan lembaga yang telah mengambil langkah untuk mengurangi perundungan. Di tingkat pendidikan, banyak sekolah yang mulai menerapkan program anti-pembullyan untuk mengedukasi siswa tentang pentingnya saling menghormati dan menghargai perbedaan. Di dunia digital, perusahaan teknologi dan media sosial mulai memperkenalkan fitur pelaporan dan perlindungan untuk melindungi penggunanya dari perundungan online.

Selain itu, pemerintah juga berperan penting dalam menegakkan hukum terkait perundungan, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Beberapa negara telah memperkenalkan undang-undang yang memberikan sanksi hukum kepada pelaku perundungan untuk mencegah terjadinya perundungan lebih lanjut.

Pembullyan adalah masalah global yang membutuhkan perhatian serius. Statistik yang ada menunjukkan bahwa ini adalah masalah yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Upaya pencegahan dan penanganan yang efektif sangat penting untuk mengurangi angka perundungan di seluruh dunia.